Minggu, 09 Juni 2013

Cinta Bukan Tidak Tepat Waktu

Sepertinya panggung teater belum pindah tahtanya. masih dihadapanku. tepat didepanku. tidak menyerong kanan maupun kiri. ya tepat lurus didepanku dan ami, teman tidur sekian bulan ini selama aku di tanah perantauan. Sejak masuk ruangan pertunjukan dan siap menyimak pementasan dengan duduk bersilah di lantai gedung yang cukup luas ini,  aku sudah dimanjakan dengan set artistik yang menurutku sederhana tapi kaya makna, setiap benda diatas panggung seperti memiliki nyawa masing-masing. Ya, seperti penonton yang dapat dikatakan tidak sedikit ini, memiliki nyawa masing-masing, raga masing-masing, dan rasa masing-masing.

Seorang announcer keluar dari balik sayap panggung dengan yakin, memberikan sambutan selamat datang sambil membacakan sinopsis dari naskah “Sulandana Sulasih” yang akan di pentaskan beberapa saat lagi. Setelah sang pembawa kabar mengkode bahwa pementasan akan segera dimulai dengan mengucapkan “Selamat Menyaksikan..!!” lampu diruangan tiba-tiba padam, hanya lampu panggung yang tetap menyala, itupun hanya lampu adegan opening berwarna hijau dan merah di sudut kanan panggung.

Ami yang duduk dibarisan depanku menggeser duduknya kesebelahku, dia membisikkan sesuatu padaku, yang ku dengar “lama-lama mataku iritasi duduk disini”. Entah benar seperti itu atau bukan yang ia bisikan padaku, suaranya samar-samar ku dengar karena beriringan dengan suara musik gamelan dari pertunjukan teater yang sedang kami saksikan. Aku dibuat bingung oleh sikapnya, tapi “aahhh, nanti juga dia akan cerita kenapa” pikirku saat itu, dan aku kembali fokus pada pertunjukkan.

Sudah beberapa adegan yang kami saksikan, hingga pada dialog pemain yang membuatku terenyuh. Dewi Rantamsari mengatakan “Sulasih, aku tau cintamu begitu besar pada Sulandana anakku. Aku berjanji akan mempertemukan kau dengannya asalkan kau tetap menjadi Lengger (Penari yang suci, budaya Jawa tengah), karena Lengger yang akan mempertemukan kamu dengan Sulandana. aku  tidak peduli dengan Bahurekso ayahnya. Sekuat dia tidak menyetujui hubungan kalian, sekuat itu pula aku akan mempertahankan hubungan kalian”, begitu kira-kira dialognya. Cinta memang akan tepat datangnya, aku percaya cinta tak pernah (ingin) telat. Cinta bukan tidak tepat hanya saja kita yang membuat cinta tidak tepat. Cinta bukan tidak tepat waktu, tapi dia hanya tersesat saat ingin menemui kita demi mencari jalan yang lebih cepat menuju kita. Percayalah, cinta bukan tidak tepat waktu hanya saja mungkin kamu yang masih terjebak di detik cinta masalalu. Ya, cinta bukan tidak tepat waktu, mungkin dia terjebak hujan hujan kegelisahanmu, tenanglah biar segera terang dan dia akan datang padamu.

Tiba-tiba Ami menyenggol lengan kanan ku “mbak, lihat..!”, matanya menuju ke arah penonton yang duduknya agak depan, sebelah kanan panggung, lumayan jauh dari tempat kita duduk. Ada dua pasang laki-laki dan perempuan, yang laki-laki aku jelas tau betul siapa dia, dia Tedy yang sering Ami ceritakan padaku menjelang tidurnya beberapa kali. Tapi, tunggu. Siapa perempuan disebelahnya? Asing.

Pertunjukkan sudah berjalan setengahnya, banyak adegan yang membuat penonton tertawa terpingkal, termasuk aku. Tapi melihat perempuan disebelahku rasanya aneh, dia diam saja. Aku tanyapun dia hanya menjawab sekenannya. Mungkin dia cemburu atau sedang menata hatinya fikirku. Sesekali pandangannya ia belokkan ke arah depan kanan tempat duduk kita, siapa lagi yang bukan ia lihat kalo bukan lelaki itu. ku lihat mata mereka saling bertatapan dari kejauhan, si lelaki seperti mencari celah memandang perempuan disebelahku dari balik bahu perempuan disampingnya.

“menyebalkan, dasar laki-laki. Bisanya bawa terbang cewe sejauh mungkin dan setelah jauh, saat perempuan sudah menikmati penerbangannya, akan dengan tiba-tiba dia menghempaskan perempuan ke bumi..” aku hanya menggerutu dalam hati. Tedy memang berhak jalan dngan siapapu, tapi mbok ya sedikit saja masa tidak mengerti posisi Ami yang baru ditinggalkannya du bulan lalu. hati Ami masih sangat rapuh dengan segala hal tentang Tedy. ya rapuh yang ia bungkus dengan sok ketegarannya.

Ku lihat Tedy ikut terbahak melihat pertunjukkan, begitupun perempuan berjilbab disampingnya. Sesekali si perempuan memukul kecil bahu Tedy sambil tertawa dan kemudian menenggelamkan mukanya dibahu Tedy. Perempuan itu pasti nyaman disebelah Tedy, ya ayng ak tahu Tedy memang tipe lelaki yang sangat enak di ajak bicara, wawasannya luas dan guyon nya tidak garing. Pantas jika Ami pernah benar-benar menganggapnya adalah pilihan terakhir untuk hidupnya.

Makin lama Ami makin sering melihat ke arah dua sejoli yang asik tertawa melihat pertunjukkan, air mukanya sangat menyiratkan isi hatinya, matanya tiba-tiba layu. Sekarang aku tahu pasti bahwa Ami-ku sedang cemburu. Bayangannya kembali pada tahun-tahun dimana dia juga melakukan hal yang sama seperti perempuan disebelah Tedy. Menyaksikan pertunjukkan teater bareng sambil menceritakan adegan-adegan yang membuat terkesan, entah itu lucu, senang, sedih atau bahkan adegan-adegan yang tidak disangka. Aku yang menatapnya tak tega, aku pernah ada diposisi itu, sangat menyakitkan. Darah seperti sedang dibakar dan membuat desirannya semakin deras menuju saraf terkecil dikepala. Beberapa kali aku menepuk pundak Ami untuk menyadarkan lamunannya yang dibawa Tedy.

Ki Bahurekso mengeluarkan kerisnya dengan mengatakan “sulandana, sampai kapan pun aku tidak akan menyetujui hubunganmu dengan Sulasih, karena Sulasih adalah Anakku..!!!”. kalimat terakhir dibarengi denga hunusan keris Bahurekso pada Sulasih. Kemudian gelap.

Satu jam sepuluh menit, seluruh lamu di ruangan kembali dinyalakan, pertunjukkan akhirnya selesai. Seperti biasa, setelah tokoh tidak lagi menjadi satu dengan pemain, penonton dan tim produksi mengadakan obrolan-obrolan ringan tentang pementasa. Annoncer yang tadi membuka acara keluar lagi dan menjadi moderator di acara tersebut. Aku, Ami, Tedy, perempuan disamping Tedy dan beberapa penonton lainnya masih berada di ruangan untuk ngobar (NGObrolBareng).

Ku lihat mata Ami sangat sembab, sepertinya dia menangis saat tak ada cahaya yang menyorot ke wajahnya. Ya, aku tahu betapa sakit rasanya diposisi itu. sakit sekali.

“perempuan tadi siapa?” ku beranikan menanyakan hal itu pada Ami setelah ku lihat dia mulai sedikit tenang. “perempuan itu istri mas Tedy mbak...” jawab Ami tegar sambil tersenyum. Tidak lama dia menenggelamkan wajahnya di pundakku, ku lihat bahunya naik turun tidak beraturan. Dia menangis (lagi). Terlalu banyak orang diruangan ini, tidak ada yang memperhatikan kita sepertinya, syukurlah.


Seperti yang dikatakan oleh ibu Sulandana, “Cinta Akan Datang Karena Lengger”. Bukan karena Lengger menurutku, tapi karena cinta itu sendiri. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar